pta-plg-logo.png

Onsplitsbaar aveu : siapakah yang harus membuktikan ?

Written by ML. Hakim Bastary.

ONSPLITSBAAR AVEU :

SIAPAKAH YANG HARUS MEMBUKTIKAN ?

Oleh ML. Hakim Bastary
Hakim Tinggi Pada Pengadilan Tinggi Agama Palembang.

 

Fakta dan Masalah

Salah satu tahap dalam menyidangkan perkara yang memerlukan kepiawaian, kecerdasan dan menuntut sikap impartial (tidak memihak) adalah saat hakim membebankan dan menilai alat bukti, dan dari tahap inilah akan menentukan arah putusan yang dijatuhkan.

Membuktikan dalam perkara tidak lain adalah sebagai upaya untuk memberi fakta sebanyak-banyaknya kepada hakim guna menguatkan dalil-dalil gugatan penggugat dan dalil-dalil bantahan tergugat.

Dalam masalah pembebanan pembuktian, terdapat ketentuan yang harus dipahami hakim, yaitu:

-   Pasal 283 R.Bg:

 

“Barang siapa menyatakan bahwa ia memiliki sesuatu hak atau mempunyai cukup  alasan  untuk  meneguhkan haknya itu  atau untuk menyangkal hak orang lain, harus membuktikan hak atau alasan itu benar ada padanya” (HIR 163 : BW 1865).

Ketentuan di atas dalam prakteknya sulit dilakukan, sehingga masih ditemui adanya putusan hakim pertama yang diperbaiki atau dibatalkan, apalagi jika menyangkut penilaian pembuktian yang berhubungan untuk suatu penghargaan, karena hakim dituntut untuk membebankan pembuktian yang berdasarkan pada keadaan secara konkrit atau yang paling sedikit memikul risiko.

 

 

Pengakuan Tidak Murni

 

Dalam tulisan ini hanya akan membahas tentang salah satu dari alat bukti, yaitu pengakuan yang merupakan pernyataan kehendak (wisverlaring), itupun untuk pengakuan yang bersifat tidak murni (tidak bulat).

Sebagai patokannya adalah ketentuan Pasal 311 R.Bg yang menyatakan:  “Pengakuan  yang  diucapkan  dihadapan  hakim  adalah suatu bukti yang cukup terhadap pihak yang telah mengucapkannya baik hal  itu  diucapkannya  secara  pribadi  maupun  dengan  perantaraan seorang kuasa yang khusus dikuasakan untuk itu” (HIR 174 : BW 1925). Kemudian   ketentuan   Pasal   313   R.Bg,   yang   menyatakan:   “Tiap pengakuan harus diterima secara bulat dan hakim tidak berkuasa untuk atas  kerugian  pihak  yang  mengucapkannya, memecah  pengakuan  itu dengan hanya menerima sebahagian saja dan menolak bahagian yang lain,  kecuali  apabila  dan  sepanjang  pihak  yang  berhutang  dengan maksud untuk melepaskan dirinya, dalam pengakuannya itu telah menunjukkan fakta-fakta yang terbukti palsu“ (HIR 176 : BW 1924).

Kedua ketentuan di atas adalah mengatur tentang pengakuan yang tidak murni (tidak bulat) =  onsplitsbaar aveu/onsplitsbaar bekentenis, yang berupa pengakuan dengan kualifikasi (gequalificeerde bekentenis, avue qualifie) dan pengakuan dengan klausula (geclausuleerde bekentenis, avue  complexe).  Atau  ini  merupakan  ajaran  dari  adanya pengakuan yang tidak murni.

Pengakuan kualifikasi adalah pengakuan yang disertai dengan penyangkalan untuk sebagian. Misalnya: “Tergugat mengakui tidak memberi nafkah kepada penggugat, akan tetapi hanya 8 bulan, bukan 16 bulan”. Sedangkan untuk pengakuan klausula adalah pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang sifatnya membebaskan. Misalnya: “Tergugat mengakui tanah tersebut diperoleh selama dalam

 

masa perkawinan dengan penggugat, akan tetapi dibeli dengan uang dari orang tua tergugat sebagai hibah untuk tergugat”. Padahal kedua pengakuan tersebut telah tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 313 R.Bg.

 

 

Analisis

 

Terhadap pengakuan-pengakuan tersebut, penerapan beban pembuktiannya tidak diatur baik dalam R.Bg dan HIR maupun dalam BW,  akan  tetapi  dapat  dijumpai dalam  beberapa Putusan  Mahkamah Agung RI, yaitu terdapat dua cara:

Pertama:

 

Dibebankan kepada penggugat an sich karena pengakuan-pengakuan tersebut  belumlah  merupakan pengakuan yang  memenuhi syarat  atau tidak murni (tidak bulat) atau masih dianggap bantahan, sehingga penggugatlah yang harus membuktikan dalilnya. Hal ini dapat dipahami dari Putusan MA-RI Nomor 8 K/SIP/1957 Tanggal  28 Mei 1958, yang menyatakan: “Penggugat asli menuntut kepada tergugat asli penyerahan sawah sengketa terhadap penggugat asli bersama kedua anaknya atas alasan, bahwa sawah tersebut adalah budel warisan dari Marhum suaminya yang kini dipegang oleh tergugat asli tanpa hak; yang atas gugatan tersebut tergugat asli menjawab, bahwa sawah itu kira-kira 15 tahun yang lalu sudah dibeli plas (lepas) dari penggugat asli oleh Marhum suami tergugat asli;

Jawaban  tergugat  asli  tersebut  merupakan  suatu  jawaban  yang tidak dapat dipisah-pisahkan (onsplitsbaar aveu), maka sebenarnya penggugat aslilah yang harus dibebani untuk membuktikan kebenaran dalilnya, i.c. bahwa sawah sengketa adalah milik Marhum suaminya” (Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi - R.Soeparmono, SH, Mandar Maju, Bandung, 2005, hal.134-135).

Kedua:

 Dibebankan kepada penggugat atau tergugat karena dalil bantahan tergugat tersebut akan menguntungkan tergugat serta klausula yang diajukan tergugat justru akan menghilangkan hak penggugat, sehingga tidak sepatutnya pembuktian dibebankan kepada penggugat, dan penggugat tetaplah pada pembuktian akan dalilnya. Hal ini sesuai dengan Putusan MA-RI Nomor 272 K/SIP/1973 Tanggal 27 November 1973, yang menyatakan: “Perkembangan yurisprudensi mengenai Pasal 176

HIR (=  pengakuan yang terpisah-pisah ialah, bahwa dalam hal  ada pengakuan yang terpisah-pisah, hakim bebas menentukan untuk siapa dibebankan kewajiban pembuktian”,  dan  Putusan  MA-RI  Nomor  22

K/SIP/1973 Tanggal 25 November 1976, yang menyatakan: “Dalam hal ada pengakuan yang terpisah-pisah, hakim bebas untuk menentukan berdasarkan rasa keadilan pada siapa harus dibebankan pembuktian” (Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi - R.Soeparmono, SH, Mandar Maju,  Bandung,  2005,  hal.135-136).  Kedua  Putusan  MA-RI  tersebut telah memberi keleluasaan kepada hakim untuk menentukan kepada siapa beban pembuktian itu diberikan. Atau merupakan bukti bebas (vrijbewijs) di mana masih diperlukan bukti tambahan.

 

 Kesimpulan

Pembebanan pembuktian kepada penggugat dan/atau tergugat adalah lebih objektif dengan alasan:

  • Kepada penggugat karena dari semula ia harus mempertahankan dalilnya  (recht schapande feiten), karena  jawaban  yang  tidak murni dari tergugat yang justru akan menguntungkannya adalah tidak mungkin dapat dibuktikan pengugat di karenakan sesuatu hal yang negatif (negativa non sunt probanda).
  • Kepada tergugat perlu membuktikan dalil yang diajukannya yang akan melenyapkan hak dari penggugat (rechtsevernietigende feiten), karena dalil tergugat tersebut pasti dibantah penggugat (dalam reflik-nya).

Adapun nilai kekuatan pembuktian dari pengakuan yang tidak murni (tidak bulat) tergantung kepada penilaian hakim, atau mempunyai nilai kekuatan pembuktian yang bebas (vrijbewijskracht).

 

EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN oleh ML Bastary Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Palemban

Written by Pengadilan Tinggi Agama Palembang Prov Sumsel.

EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN

oleh
ML Bastary Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Palembang

artikelicon.png

 

Pengertian Hak Tanggungan

 Sebagaimana dengan ketentuan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 Tahun  1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah; “Hak Tanggungan, adalah hak jaminan yang diberikan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan  dengan tanah, untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain”. Di samping sebagai jaminan yang dibebankan pada hak-hak atas tanah, Hak Tanggungan juga dapat dibebankan pada benda-benda lain baik berupa bangunan maupun tanam tumbuh di atasnya dan hasil karya yang telah ada atau akan ada yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut, dan yang merupakan milik pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dengan tegas dinyatakan di dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan [Pasal 4 ayat (4) Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996].

Ciri-ciri Khusus Hak Tanggungan

 

Sebagai jaminan pemenuhan kewajiban membayar hutang dari debitor (nasabah) kepada kreditor (bank), maka Hak Tanggungan mempunyai ciri-ciri khusus, antara lain:

  1. Hak Tanggungan melekat padanya hak preference (kedudukan yang diutamakan) kepada kreditor tertentu (pertama) untuk memperoleh hak didahulukan dari kreditor lain dalam hal memperoleh pelunasan piutang dari hasil penjualan obyek
  2. Hak Tanggungan menyertai keberadaan tempat di mana benda itu berada, sehingga meskipun tanah yang telah dibebani dengan Hak Tanggungan dialihkan kepada pihak lain atau orang lain (peralihan hak: jual beli, hibah). Namun Hak Tanggungan tetap melekat pada tanah tersebut selama belum dihapuskan (dilakukan Roya) oleh pemegang Hak
  3. Hak Tanggungan melekat padanya kekuatan eksekutorial karena sertifikat Hak Tanggungan ber irah-irah: “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” sebagaimana halnya dengan putusan pengadilan, sehingga dapat dilakukan eksekusi (melalui penjualan di muka umum).
  4. Hak Tanggungan dapat digunakan untuk menjamin utang yang sudah ada atau yang akan ada, utang yang pada saat pemberian Hak Tanggungan ditanda tangani jumlah / bentuknya belum ditetapkan (utang yang akan ada).
  5. Hak Tanggungan bersifat accecoir (tambahan) dari perjanjian pokok atau mengikuti perjanjian pokok. Maksudnya perjanjian Hak Tanggungan tidaklah berdiri sendiri, melainkan karena adanya perjanjian pokok sebelumnya, yaitu perjanjian utang- piutang, sehingga jika perjanjian pokok berakhir, maka dengan sendirinya perjanjian Hak Tanggungan berakhir
  6. Hak Tanggungan juga bersifat publisitas sebagai sarana sosialisasi agar masyarakat mengetahui tentang kedudukan atas obyek jaminan serta dapat diketahui terjadinya perpindahan hak dari debitur kepada

Jenis Eksekusi Hak Tanggungan

 

Apabila debitor cidera janji (wanprestasi), maka eksekusi Hak Tanggungan dapat dilakukan dengan cara-cara, yaitu:

  1. Parate Eksekusi (Pelaksanaan Langsung), yaitu pelaksanaan suatu prestasi yang dilakukan sendiri oleh kreditor (yang berpiutang) tanpa melalui pengadilan.2 Jadi pelaksanaan langsung tersebut terjadi apabila kreditor menjual barang tertentu milik debitor tanpa mempunyai titel eksekutorial, yaitu sebagaimana diatur Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996:

Baca Selengkapnya

Khutbah idul adha 1440 H

Written by Maskur Kaswi.

KHUTBAH IDUL ADHA 1440 H

Khutbah Pertama

اللهُ اَكْبَرْ  ..... لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. 

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ َ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ   لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ

وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ

 نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Pada tahun 9 Hijriah,  1431 tahun yang lalu, Rasulullah SAW kembali ke Kota Mekkah untuk melakukan ibadah haji yang terakhir, setelah melakukan pembebasan kota Mekkah setahun sebelumnya. Puluhan ribu sahabat tumpah ruah di Padang Arafah. Mendengarkan pesan-pesan agung  dari Rasulullah SAW;

Ini adalah haji pertama dan terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah SAW semasa hidup. Pada hari itu Allah menurunkan wahyu terakhir kepada Rasulullah SAW. Maka sempurna pula tugas Beliau sebagai pembawa wahyu terakhir.

Maasyirol Muslimin Walmuslimat.

Hari ini kaum muslimin dan muslimat diseluruh dunia, apalagi saudara kita yang sedang berhajji dengan wajah istimewa gembira ria atas anugerah nikmat Allah SWT.

Kalau Saudara kita yang berhajji melantunkan kalimat talbiyah

لبيك اللهم لبيك لبيك لاشريك لك لبيك                            

 ان الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك  

Maka kita disini mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid.

Jama’ah Rohimakumullah.

Khutbah ini saya mulai dengan “Ajaran ketulus ikhlasan” yang ditunjukkan oleh Ibrahim, Siti Hajar, dan putra tercintanya Ismail dalam kisah qurban.

Allah mengisahkan dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat 101-111 yang artinya sebagai berikut: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ash-Shaffat: 101-111).

  • Ikhlas dalam beribadah tanpa merasa beban.
  • Ikhlas dalam mesyukuri nikmat dengan jalan memanfaatkan anugerah Allah sebaik-baiknya.
  • Ikhlas ketika menerima musibah.
  • Ikhlas tatkala harus berzakat, berinfaq, bershadaqah.
  • Ujian keikhlasan justru terletak ketika harus berhadapan dengan hal-hal yang berat dan tidak menyenangkan, yang mengandung esensi di baliknya sebagai batu uji kesabaran, kesyukuran, dan pengabdian menuju kehidupan penuh makna utama selaku insan bertaqwa.

Sdr.. Paling tidak ada 7 tanda orang Ikhlas:

  1. Menyempurnakan ibadahnya meskipun dalam keadaan sendiri. Orang yang beribadah lebih khusyu ketika sendirian dalam kesunyian;
  2. Tidak Suka Dipuji; Karena hubungannya kuat dengan Allah, dia takut dipuji;
  3. Mendengarkan Nasihat; Tidak peduli siapa yang memberikan nasihat;
  4. Tidak berambisi menjadi pemimpin;
  5. Dia Selalu Mengingat Kelemahan-kelemahannya Orang yang tulus selalu sibuk memikirkan bagaimana memperbaiki diri;
  6. Bahkan, dia selalu menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya;
  7. Beramal secara rahasia; Tangan kirinya tidak tahu kalau tangan kanannya bersedekah;

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullahh

Yang Kedua  ajaran tentang “Ibadah qurban”.  Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar memberi teladan terbaik tentang praktik berkurban dengan sepenuh ketaqwaan. Allah berfirman

 لن ينال الله لحومه ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم             Artinya: “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu."(QS Al-Hajj : 37).

Apalah artinya  seekor hewan kurban  dibandingkan  nyawa seorang Ismail yang sangat dicintai kedua orangtuanya. Maukah kita hari ini berqurban dengan seekor hewan qurban? Kenyataan kadang menunjukkan,  karena kecintaan yang berlebih terhadap harta, sebagian orang menjadi berat hati untuk berkurban dengan seekor hewan. Di antara kita boleh jadi terasa berat untuk berqurban karena hitung-hitungan uang dan harta, meski untuk seekor hewan. Padahal betapa tinggi makna dan fungsi dari ibadah qurban itu baik bagi pelaku maupun umat sesama.

Dalam Alquran dijelaskan, ada seseorang yang berkurban dengan tulus sehingga kurbannya diterima Allah SWT. Ada pula yang berkurban dengan setengah hati sehingga kurbannya sia-sia, tanpa mendapatkan ridha Allah.

Tipe pertama diwakili oleh Habil anak Nabi Adam yang mengorbankan harta miliknya yang paling berharga, yaitu kambing yang gemuk dan besar. Ia mempersembahkannya kepada Allah dengan tulus ikhlas untuk mendapatkan ridha Sang Khalik.

Tipe kedua adalah Qobil anak Nabi Adam yang lain. Meski ia  seorang petani kaya, Qabil berkurban dengan segenggam gandum yang kering dengan niat setengah-setengah.

Hasilnya, Allah menerima kurban Habil dan menolak persembahan Qabil. Kisahnya dijelaskan dalam Alqur-an surah  al-Maidah ayat 27.

Sdr..

Mari Kita memgambil makna hakiki dari ajaran ketulus Ikhlasan dan pengorbanan Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar sebagai role model perilaku emas yang menebar keutamaan bagi seluruh umat manusia.  

Dalam kehidupan ini. Sungguh diperlukan jiwa berkorban berbasis iman untuk tegaknya kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan segala keutamaan. Termasuk bagi mereka yang memiliki kekayaan berlebih untuk berkorban demi kesejahteraan rakyat yang dhu’afa-mustadh’afin. Tanpa pengorbanan dengan jiwa, pikiran, perasaan, dan perbuatan yang tulus dan utama, maka tidak mungkin tercipta kehidupan yang baik dan maju di tubuh bangsa ini dalam bingkai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Ibadah Qurban juga mengajarkan sifat  kasih sayang atau welas asih yang jernih terhadap sesama sebagai perwujudan cinta kepada Allah.  

Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW, dan para Rasul kekasih Allah mempraktikan hidup kasih sayang itu terhadap sesama tanpa diskriminasi.

Nabi Ibrahim sempat minta kepada Tuhan agar umat Nabi Luth yang durhaka tidak diberi azab. Sifat welas asih  Nabi yang satu ini diabadikan dalam Al-Quran:

                        إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيب           

Artinya: “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75).

Para Nabi Utusan Allah itu sangatlah berjiwa kasih sayang. Nabi Muhammad ketika dilempari batu oleh kaum Thaif tatkala hijrah, beliau berkeberatan pada saat Malaikat Jibril menawarinya agar mereka  yang melukainya itu diberi azab. “Jangan, mereka sungguh kaum yang belum mengerti”, ujar Nabi akhir zaman itu. Dalam hadisnya beliau bersabda, yang artinya:, “Tidaklah beriman seseorang hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muslim).  

Rahmat Allah pun terlimpah bagi para hamba yang menebarkan kasih sayang di muka bumi.

Sdr…

Kini insan beriman di mana pun berada diuji ketulusan  dalam menghadapi dunia yang  kepentingan harta, tahta, dan pesona dunia yang serba menghalalkan apa saja. Kehidupan politik yang serba bebas, ekonomi yang serba kapitalistik, dan budaya populer yang memuja kesenangan inderawi membuat masyarakat kehilangan nilai-nilai Ilahi yang bermakna utama.

Dalam kesempatan ini, Saya Mengajak para hadirin untuk memperhatikan Hadits Rosulullah SAW yang berbunyi:

سيأتى على الناس زمان : بطونهم آلهتهم-  ونساؤهم قبلتهم - ودناريرهم دينهم- وشرفهم متاعهم- لايبقى من الايمان الا اسمه- ومن الاسلام الا رسمه- ولا من القرأن  الا درسه - مساجدهم معمورة- وقلوبهم خراب من الهدى- علماؤهم اشر خلق الله على وجه الارض  --    حينئذ ابتلاهم الله بأربع حصال : جور من السلطان – وقحط من الزمان – وظلم من الولاة والحكام – فتعجب الصحابة فقالوا يا رسول الله ايعبدون الاصنام  قال نعم كل درهم عندهم صنم  {متفق عليه}                                

Akan datang suatu masa bagi umat manusia:

  • Perut Mereka Menjadi Tuhan mereka;
  • Perempuan yang menjadi Kiblat;
  • Uang Sebagai Agama;
  • Kehormatan terletak pada kekayaan;
  • Pada saat itu, Iman hanya Nama, Islam hanya ritual, Qur-an hanya dipelajari – Masjid makmur, tapi hati manusia kosong dari petunjuk – Ulama adalah manusia paling buruk di muka bumi;
  • Ketika itu Allah akan menurunkan siksaNya yaitu Menghadapi Penguasa Yang Kejam, Masa yang Kering, Pejabat Yang Zalim, dan Hakim yang tidak adil.
  • Sahabat bertannya; Ya. Rosulullah apakah mereka menyembah berhala. Nabi menjawab; YA.. Bagi mereka Uang adalah Berhala.

Jama’ah Idul Adha Rohimakumullah!!!

Bagi Mukmin sejati bahwa ibadah haji, qurban, dan ibadah-ibadah lainnya harus menjadikan dirinya semakin dekat dengan Allah dan berbuat kebaikan bagi sesama dalam jalinan habluminallah dan habluminannas yang harmonis.  

Sdr..

Jika ujian dan pengorbanan kepada Nabi Ibrohim AS. dibakar hidup-hidup kemudian perintah menyembelih putera kesayangan ISMAIL yang lahir berdasarkan doa demi doa, MAKA ujian dan pengorbanan kita adalah:

  • Mungkin Nafsu Urusan Perut Kita;
  • Mungkin Pengaruh dari para siti hawa Kita;
  • Boleh jadi ISMAIL kita adalah Uang dan kelebihan materi lainnya;

Pokoknya setiap apapun yang dapat merusak hubungan kita dengan Allah SWT atau MENDISOREANTASI perjalanan kita menuju Allah SWT, maka itulah ISMAIL kita;

Maka korbankanlah dia; Tanggalkan dia dari hati kita;

Sdr..

Jika kita belum mampu menyembelih hewan qurban, maka sembelihlah sifat sombong yang ada dalam diri kita yang selalu merasa benar, selalu merasa pandai atau selalu merasa paling Alim;

Sebagaimana  Alkisah;  Seorang Ahli Ibadah Yang Rugi bernama Abu Hasyim.

Pada suatu ketika saat hendak mengambil wudhu untuk tahajud, Abu Hasyim dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yang duduk di bibir sumurnya. Abu Hasim bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?” Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat-(utusan-Allah)”.

Abu Bin Hasyim kaget sekaligus bangga karena kedatangan tamu malaikat mulia. Dia lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yang kau bawa?” Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba-pencinta-Allah.”

Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dalam hati namanya ada di situ. Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?” Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yang tidak kenal putusnya. Selalu mengerjakan shalat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam.

"Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tidak menemukn nama Abu di dalamnya.  Tidak percaya, Abu bin Hasyim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tidak ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis se-jadi-jadinya. “Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan bermunajat … tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak  tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dalam buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.”
“Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya?” tanya Abu bin Hasyim. “Engkau memang bermunajat kepada Allâh, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga kemana-mana dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak engkau tengok dan beri makan. Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allâh ?” kata Malaikat itu.

Abu bin Hasyim seperti​ disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allâh semata (hablumminAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam.

 

Jama’ah Idul Adha Rohimakumullah !!

Mari kita perhatikan catatan sejarah pelaksanaan Qurban Rosulullah SAW.

Rosulullah SAW memotong dua ekor domba, saat menyembelih hewan kurban yang pertama, beliau berdoa : “Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan keluarga” Lalu doa menyembelih hewan kedua, “YA Allah terimalah ini atas nama umatku yang tidak mampu melakukan qurban”.

Dari Do’a Rosulullah SAW diatas, sesungguhnya mengajarkan bahwa pemotongan hewan qurban, bukan sekedar acara ritual, melainkan ajaran esensil tentang kepekaan solidaritas social dan pendekatan kepada orang yang tidak mampu.

Sdr. penyembelihan hewan kurban sebagai isyarat akan pengorbanan ISMIL kita masing-masing. Dan memang begitulah arti qurban yang sebenarnya. sebagaimana dijelaskan dalam Al-quran surat Al-hajj ayat 29;

ليشهدوا  منفع لهم ويذ كروا اسم الله  في ايام معلومت

على ما  رزقهم من بهيمة الانعام                                       

فكلوا منها واطعموا البائس الفقير

“Supaya mereka menyaksikan berbagai menfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagiannya dan sebagiannya lagi berikan untuk dimakan orang-orang sengsara lagi miskin”.

Demikian semoga perjuangan Nabi Ibrohim AS beserta keluarganya, dan Ajaran Ibadah Qurban mempunyai ajaran Keikhlasan, Kecintaan dan Ajaran Pengorbanan untuk ditumbuh kembangkan diberbagai lini kehidupan kita.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. 

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ  وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

اللهُ اَكْبَرْ ………….  

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. 

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. 

وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ

وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.

وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

 

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا.

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ.

 وَالْحَمْدُلِلّهِ-رَب-الْعَالَمِيْنَ                                           

Hajji dan Qurban

Written by Maskur Kaswi.

Hajji dan Qurban

Khutbah Pertama  

By. Drs. H. Kamil Umar Esa, S.H.

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا،

 مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ                    .
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى               
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ       
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا     
 

اخواني رحمكم الله …….

Seiring perjalanan waktu dan berkurangnya usia; Mari kita tingkatkan kualitas ibadah dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. dengan ciri-ciri, Keikhlasan sebagai titik tolak, Keridhoaan Allah sebagai titik tuju dan Kesolehan sebagai garis amal.

Hanya dengan qudrat dan irodat Allah SWT kita dapat melaksanakan shalat jum’at di Masjid Nurul Hidayah ini;  bersamaan dengan ikhwan kita yang sedang melaksankan ibadah hajji.

Sdr…

Syari’at Ibadah hajji dan Ibadah qurban – bersumber dari historis tiga hamba Allah, Nabi Ibrohim AS, Siti Hijir dan Nabi Ismail AS.

Ziaul Haque dalam bukunya “Revelation and Revolution In Islam” mengupas secara tajam tentang misi dan visi Nabi Revolusioner; salah satunya adalah Nabi Ibrohim AS.. yang visioner; dimana cita-citanya jauh kemasa depan dalam kemaslahatan dan kesejahteraan ummat; sebagaimana Do’a beliau;

واذ قال ابراهيم رب اجعل هذا البلد أمنا  وارزق اهله من الثمرات                                                              

(Dan ketika Nabi Ibrohim berdo’a, Oh Tuhan jadikanlah negeri ini aman tenteram, meski gersang, Berilah mereka beraneka macam buah-buahan)  Al-Baqoroh ayat 126.

Jama’ah sekalian  

Ibadah Qurban adalah peribadatan yang paling tua dan klasik dalam sejarah kehidupan manusia; Allah SWT mengabadikannya dalam FirmanNya dalam Surat Al-Maidah ayat 27; tentang Qurban yang dilakukan dua anak-anak Nabiyullah Adam AS yaitu Qabil dan Habil;

واتل عليهم نبئ ابنى آدم بالحق اذ قربا قربانا فتقبل من احد هما ولم يتقبل من الاخر قال لاقتلنك قال انما يتقبل الله من المتقين  

Artinya: Ceritakanlah  kepada  mereka  kisah  kedua  putra  Adam  (Habil  dan  Qabil)  menurut yang  sebenarnya,  ketika  keduanya  mempersembahkan  kurban,  maka diterima  dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain  (Qabil). Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.  

Dan dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan:

لن ينال الله لحومه ولا دماؤها

ولكن يناله التقوى منكم

“Daging hewan qurban dan darahnya itu, sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepaNya adalah ketaqwaanmu...! (Surat Al- Hajj ayat 37)

Ayat  ini  cukup  memberikan  pelajaran  kepada  kita,  bahwa  Allah SWT tidak mempertimbangkan material  yang dikorbankan. Allah tidak menilai  ibadah  dari  sisi harga materinya,  tetapi  yang  mendapatkan  penilaian  adalah  ketaqwaan  manusia  yang menjalankannya.  

Jama’ah sekalian,

Disaat pengalaman ritual kita berada pada titik puncak, maka kita perlu berinstrospeksi; Misalnya Sudahkan shalat kita mampu menjauhkan diri kita dari perbuatan keji dan mungkar;  Sudahkan  Qurban  yang  kita  lakukan  menjadikan  diri  kita  lemah  lembut  terhadap saudara-saudara kita yang fakir dan miskin ?    Sudahkan haji yang telah kita lakukan, menjadikan kita lebih baik dari sebelum berhajji ?

Jika  belum,  maka berusahalah  agar  ibadah yang kita lakukan  benar-benar  menjadi madrasah bagi kepribadian kita;

Singkatnya  substansi disyariatkan Ibadah, tidak  hanya agar  manusia  taat menjalani ritual  keagamaan,  tetapi  dengan ibadah  hendaklah  kita  menjadi baik  kepada  sesama manusia, Shalih ritual dan  shalih sosial.  

Sdr.

Ibadah Hajji secara edukatif sarat dengan pesan moral yang harus ditransformasikan kedalam realitas emfirik kehidupan umat.

Pertama NIAT, Hajji adalah ibadah perjuangan fisik dan senjatanya adalah niat yang ikhlas; Dengan niat yang ikhlas tidak akan melahirkan kesalehan formalistic penomena kepura-puraan;

Kedua Kostum Ihrom; adalah pengajaran persamaan (Almusawwamah); Eksisetensi manusia dihadapan Allah adalah sama,

Ketiga THOWAF. ajaran kepada  manusia untuk mengevaluasi kehidupan bahwa pada gilirannya akan berpusat pada Zat Yang Maha Kuasa ALLAH SWT.

Keempat SA’I; merupakan petunjuk bahwa manusia harus berusaha mencapai hasanah dunia dan hasanah akhirat;

Kelima MELONTAR JUMROH, sebagai peringatan bahwa iblis musuh yang nyata.

Maka lewat ajaran MELONTAR JUMROH pada hakikatnya adalah mengusir pengaruh iblis.

Keenam WUKUF DI  ARAFAH  & MABIT DI MUZDALIFAH.

Bagaikan gambaran padang mahsyar yang memperingatkan kita kepada kematian.

Adalah kematian seharusnya menyadarkan manusia supaya tidak terjebak pada kemilau dunia;

Seribu satu Izroil bersemayam didalam dan diluar tubuh kita yang setiap saat siap menjalankan tugas. 

 

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

انا  اعطيناك الكوثر فصل لربك وانحر ان شانئك هو الابتر . 

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ َاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua 

 

اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. 

وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ

وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.

وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

 

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ.

 وَالْحَمْدُلِلّهِ-رَب-الْعَالَمِيْنَ                                            

--------------

   

Tuntutan Sebagai Akibat Perceraian Saat Proses Mediasi

Written by Drs. H. M. Lukmanul Hakim Bastary, S.H., M.H..

Latar Belakang
Maksud diterbitkannya Peraturan Mahkamah Agung (Perma) RI Nomor 1 Tahun 2016 dapat diketahui dari konsideran peraturan tersebut, yaitu antara lain untuk menyelesaikan sengketa dengan damai dan dapat membuka akses yang lebih luas kepada Para Pihak guna memperoleh penyelesaian yang memuaskan serta berkeadilan. Di samping itu dalam rangka reformasi birokrasi Mahkamah Agung RI yang berorientasi pada visi terwujudnya badan peradilan Indonesia yang agung, yang salah satu elemen pendukungnya adalah mediasi dan sekaligus mengimplementasikan asas penyelenggaraan peradilan yang sederhana, cepat, dan berbiaya ringan.


Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 adalah bukan peraturan yang pertama dikeluarkan, akan tetapi merupakan peraturan ketiga setelah sebelumnya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2006 dan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008, dengan
Penamaan yang sama, yaitu tentang Prosedur Mediasi Di Pengadilan.

Baca Selengkapnya >>>