logo-pta.png

“Apakah Kami Otomatis Bercerai?” Penyuluhan Hukum Terpadu bagi Masyarakat Binaan di Lapas Sekayu

.

“Apakah Kami Otomatis Bercerai?” Penyuluhan Hukum Terpadu bagi Masyarakat Binaan di Lapas Sekayu

 

PA-SEKAYU.GO.IDHari Kamis dan Jum’at, 2-3 Mei 2019, Pengadilan Agama Sekayu kembali mendapat kesempatan untuk memberikan pelayanan hukum. Kali ini dalam bentuk Penyuluhan Hukum Terpadu yang diinisiasi oleh Bagian Hukum Setda Kabupaten Musi Banyuasin dan bertempat di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Sekayu. Selain Kepala Bagian Hukum Pemda Musi Banyuasin dan Kepala Lapas Sekayu sebagai tuan rumah, instansi yang turut menjadi penyuluh dalam acara ini yaitu dari perwakilan dari Pengadilan Agama Sekayu, Kejaksaan Negeri Sekayu, dan Dinas Kesehatan Pemkab Musi Banyuasin.

Penyuluhan ini bertujuan memberikan bekal pengetahuan kepada para peserta yang merupakan masyarakat binaan Lapas Klas II B Sekayu yang masa tahanannya akan habis pada tahun ini dan mereka akan kembali ke dalam lingkungan masyarakat masing-masing, demikian ujar H. Yudi Herzandi, S.H., M.H., Kabag. Hukum Pemkab Musi Banyuasin.

 

Panitera PA Sekayu, Dalam Sesi Tanya Jawab

 

Pengadilan Agama Sekayu dalam acara ini mengutus Yuli Suryadi, S.H, M.M. (Panitera Pengadilan Agama Sekayu), yang memberikan penyuluhan berkaitan dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) Pengadilan Agama. Berdasarkan keterangan Yuli Suryadi, peserta sangat antusias mendengarkan dan menyimak materi yang disampaikan yang akan menjadi bekal mereka kembali ke masyarakat, terutama mengenai hukum keluarga dan tips-tips membina kembali keutuhan rumah tangga, karena banyak dari para masyarakat binaan yang menjadi peserta penyuluhan merupakan kepala keluarga dan tulang punggung keluarga.

Di akhir acara, dalam sesi tanya jawab, banyak pertanyaan yang diajukan kepada Pengadilan Agama, ada satu pertanyaan yang menggelitik hati tetapi perlu jawaban yang pasti, ketika seorang masyarakat binaan bertanya, "Makmane pak, kami kak la lebih 6 bulan dalam obak, ape setelah kelegho dari obak kami masih boleh campor dengan bini kami? Ape status kami la cerai? Ape kami harus ijab qabul baru?" (Bagaimana pak, kami ini sudah 6 bulan dipenjara, apa setelah keluar dari penjara kami masih boleh bercampur dengan istri kami? Atau apakah status kami sudah bercerai? Atau apakah kami harus ijab qabul baru? -red). Dengan sigap Panitera PA Sekayu menjabarkan, bahwa perceraian antara suami istri yang masih hidup hanya dapat terjadi di depan pengadilan, baik ikrar talak di depan persidangan maupun karena diputuskan oleh hakim. Jawaban yang disampaikan dengan gaya humor dan lugas ini menjadikan para masyarakat binaan merasa puas dan lega.

Sebagai informasi, dalam tahun 2019 ini sudah ada beberapa perkara perceraian yang diajukan di mana Tergugatnya sedang menjalani masa tahanan dan rata-rata alasan pengajuannya yaitu karena adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga.

(Humas PA Sekayu)