logo-pta.png

Kultum Pertama Bulan Februari

.

Tiaga Hal yang harus di Segerakan

WhatsApp Image 2019-02-04 at 16.06.39.jpeg

pta-palembang.net

Senin 5 Februari 2019 Kultum pertama di bulan Februari yang kali ini menghadirkan Drs. H. M. Syazili Mathir, M.H.  (Hakim Tinggi Agama) sebagai narasumber.

Dalam uraiannya, Penceramah menyajikan antara lain ada tiga hal yang harus di segerakan yaitu :
1. Beristighfar,
2. Niat,
3. Ikhlas.

Hal yang pertama tentang Istihgfar,

beliau mengajak agar kita bersegerahlah beristighfar guna memohon ampunan Allah SWT, karena setiap hari kita sebagai manusia tidak pernah luput dari khilaf dan salah kepada Allah. Istigfar dapat menghapuskan dosa-dosa yang meungkin tidak kita sadari.

 Firman Allah SWT yang artinya :"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Selain mohon ampunan, istighfar juga dapat melapangkan rizqy, diberi kemudahan, diberi kemudahan dalam segala masalah, sebagai penolak balak, dihapuskan kejelekan dan diangkat derajatnya

WhatsApp Image 2019-02-04 at 16.06.35.jpeg

WhatsApp Image 2019-02-04 at 16.06.36.jpeg

Hal yang kedua adalah Niat. " إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى " “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR Bukhari & Muslim)
Sebagai conoh ada dua orang santri yang telah selesai menuntut ilmu dengan gurunya meminta izin kepada gurunya untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing. Kedua santri ini lambat laun seiring berjalannya waktu menjadi orang sukses. Santri A sukses dengan usaha berkebun sedangkan santri B ini sukses dengan berdagang. Karena sudah merasa sukses Santri A berniat mengunjungi gurunya, yang akhirnya berangkatlah santri ini menemui gurunya sambil membawa hasil kebun yang ia tanam. Sesampainya Santri A ke rumah gurunya, Santri menyerahkan oleh-olehnya kepada Guru tersebut. Karena kebiasaan Guru bahwa kalau diberikan sesuau kepadanya, maka Guru ini akan membalas kebaikan seseorang dengan kebaikan pula, sehingga Guru tadi bertanya pada isterinya " Apa yang bisa kita berikan pada Santri A ini.. ? Isterinya menjawab .. tidak ada, hanya ada seekor kambing. Guru berkata... kalau begitu berikan kambing itu keda Santri A sebagai oleh-olehnya pulang ke kampung halamannya.Setela cerita panjang lebar tentang kisah santri hingga sukses, akhirnya Santri A pamit pulang.
Ketika perjalanan pulang, Santri A bertemu dengan teman dekatnya Santri B. Santri B bertanya pada Santri A darimana bawa seekor kambing tersebut, Santri A berceritalah tentang kunjungan kepada Gurunya. Setelah Santri A berlalu, Santri B berfikir panjang...... Kalau Santri A yang sukses dengan perkebunannya membawa buah tangan hasil kebunnya dan dibalas oleh Gurunya dengan diberi seekor kambing, maka kalau saya sukses dengan dagang dan membawa oleh-oleh untuk Guru, pastilah Guru akan memberikan saya oleh-oleh yang lebih besar dan lebih baik lagi. Akhirnya Santri B berangkat menemui Gurunya dengan membawa isi dagangannya hingga penuh sesak mobil.

Setelah tiba di padepokan tempat Gurunya, Santri B langsung menyalami sang Guru dan memberikan semua yang dibawanya. Ketiaka Santri B pamit untuk pulang, sang Guru pergi ke dapur menemui isterinya dan menanyakan apa yang dapat diberikan sebagai balasan dari oleh-oleh yang dibawa Santri B. Jawab sang isteri tidak ada selain sayur dan buah-buahan yang dibawa oleh Santri A. Akhirnya sang Guru memberikan sayur dan buah-buahan tersebut kepada Santri B sebagai oleh-oleh dari sang Guru untuk di bawa pulang.

Nah inilah sepenggal cerita bagaimana seorang Santri A yang mempunyai niat baik menemui Gurunya untuk bersilaturrahmi, sedangkan Santri B mempunyai niat menemui Gurunya karena melihat Santri B mendapat oleh-oleh Kambing dari Gurunya, yang tentu dalam pikirannya akan mendapatkan lebih hebat dari seekor kambing.

Hal yang ketiga adalah ikhlas dalam beramal.

Suatu amal kebaikan apabila dikerjakan tidak dengan dasar ikhlas karena Allah SWT, maka amal atau perbuatan baik tersebut baik itu ibadah maupun kebaikan-kebaikan lainnya, tidak akan mempunyai arti di mata Allah, dan dia tidak mendapat pahala di akhirat, melainkan dia hanya mendapat sesuatu dengan niatnya. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa sia-sialah amal kebaikannya di sisi Allah SWT. Inilah yang menjadi senjata iblis dan syaiton untuk menggoda hamba Allah.

Ada Dua hal yang menjadi senjatanya Iblis dan Syaiton;

  1. Bisikkan di hatinya agar dia menunda-nunda melakukan perbuatan baiknya, baik itu ibadah kepada Allah hingga dia lengah yang akhirnya amal ibadahnya tidak jadi dilaksanakannya.
  2. Apabila hamba Allah itu tidak mampu dengan cara yang pertama, maka bisikkan dihatinya bahwa semua perbuatannya (amal ibadahnya) bukan karena Allah SWT hingga sia-sialah amal ibadahnya dan tidak ada pahala di sisi Allah SWT.