pta-plg-logo.png

Khutbah idul adha 1440 H

.

KHUTBAH IDUL ADHA 1440 H

Khutbah Pertama

اللهُ اَكْبَرْ  ..... لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. 

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ َ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ.

اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ   لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ

وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   الشَّافِعُ فِى اْلمَحْشَرْ

 نَبِيَّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ.

اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ. اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Pada tahun 9 Hijriah,  1431 tahun yang lalu, Rasulullah SAW kembali ke Kota Mekkah untuk melakukan ibadah haji yang terakhir, setelah melakukan pembebasan kota Mekkah setahun sebelumnya. Puluhan ribu sahabat tumpah ruah di Padang Arafah. Mendengarkan pesan-pesan agung  dari Rasulullah SAW;

Ini adalah haji pertama dan terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah SAW semasa hidup. Pada hari itu Allah menurunkan wahyu terakhir kepada Rasulullah SAW. Maka sempurna pula tugas Beliau sebagai pembawa wahyu terakhir.

Maasyirol Muslimin Walmuslimat.

Hari ini kaum muslimin dan muslimat diseluruh dunia, apalagi saudara kita yang sedang berhajji dengan wajah istimewa gembira ria atas anugerah nikmat Allah SWT.

Kalau Saudara kita yang berhajji melantunkan kalimat talbiyah

لبيك اللهم لبيك لبيك لاشريك لك لبيك                            

 ان الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك  

Maka kita disini mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid.

Jama’ah Rohimakumullah.

Khutbah ini saya mulai dengan “Ajaran ketulus ikhlasan” yang ditunjukkan oleh Ibrahim, Siti Hajar, dan putra tercintanya Ismail dalam kisah qurban.

Allah mengisahkan dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat 101-111 yang artinya sebagai berikut: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Ash-Shaffat: 101-111).

  • Ikhlas dalam beribadah tanpa merasa beban.
  • Ikhlas dalam mesyukuri nikmat dengan jalan memanfaatkan anugerah Allah sebaik-baiknya.
  • Ikhlas ketika menerima musibah.
  • Ikhlas tatkala harus berzakat, berinfaq, bershadaqah.
  • Ujian keikhlasan justru terletak ketika harus berhadapan dengan hal-hal yang berat dan tidak menyenangkan, yang mengandung esensi di baliknya sebagai batu uji kesabaran, kesyukuran, dan pengabdian menuju kehidupan penuh makna utama selaku insan bertaqwa.

Sdr.. Paling tidak ada 7 tanda orang Ikhlas:

  1. Menyempurnakan ibadahnya meskipun dalam keadaan sendiri. Orang yang beribadah lebih khusyu ketika sendirian dalam kesunyian;
  2. Tidak Suka Dipuji; Karena hubungannya kuat dengan Allah, dia takut dipuji;
  3. Mendengarkan Nasihat; Tidak peduli siapa yang memberikan nasihat;
  4. Tidak berambisi menjadi pemimpin;
  5. Dia Selalu Mengingat Kelemahan-kelemahannya Orang yang tulus selalu sibuk memikirkan bagaimana memperbaiki diri;
  6. Bahkan, dia selalu menganggap orang lain lebih baik daripada dirinya;
  7. Beramal secara rahasia; Tangan kirinya tidak tahu kalau tangan kanannya bersedekah;

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullahh

Yang Kedua  ajaran tentang “Ibadah qurban”.  Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar memberi teladan terbaik tentang praktik berkurban dengan sepenuh ketaqwaan. Allah berfirman

 لن ينال الله لحومه ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم             Artinya: “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu."(QS Al-Hajj : 37).

Apalah artinya  seekor hewan kurban  dibandingkan  nyawa seorang Ismail yang sangat dicintai kedua orangtuanya. Maukah kita hari ini berqurban dengan seekor hewan qurban? Kenyataan kadang menunjukkan,  karena kecintaan yang berlebih terhadap harta, sebagian orang menjadi berat hati untuk berkurban dengan seekor hewan. Di antara kita boleh jadi terasa berat untuk berqurban karena hitung-hitungan uang dan harta, meski untuk seekor hewan. Padahal betapa tinggi makna dan fungsi dari ibadah qurban itu baik bagi pelaku maupun umat sesama.

Dalam Alquran dijelaskan, ada seseorang yang berkurban dengan tulus sehingga kurbannya diterima Allah SWT. Ada pula yang berkurban dengan setengah hati sehingga kurbannya sia-sia, tanpa mendapatkan ridha Allah.

Tipe pertama diwakili oleh Habil anak Nabi Adam yang mengorbankan harta miliknya yang paling berharga, yaitu kambing yang gemuk dan besar. Ia mempersembahkannya kepada Allah dengan tulus ikhlas untuk mendapatkan ridha Sang Khalik.

Tipe kedua adalah Qobil anak Nabi Adam yang lain. Meski ia  seorang petani kaya, Qabil berkurban dengan segenggam gandum yang kering dengan niat setengah-setengah.

Hasilnya, Allah menerima kurban Habil dan menolak persembahan Qabil. Kisahnya dijelaskan dalam Alqur-an surah  al-Maidah ayat 27.

Sdr..

Mari Kita memgambil makna hakiki dari ajaran ketulus Ikhlasan dan pengorbanan Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar sebagai role model perilaku emas yang menebar keutamaan bagi seluruh umat manusia.  

Dalam kehidupan ini. Sungguh diperlukan jiwa berkorban berbasis iman untuk tegaknya kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan segala keutamaan. Termasuk bagi mereka yang memiliki kekayaan berlebih untuk berkorban demi kesejahteraan rakyat yang dhu’afa-mustadh’afin. Tanpa pengorbanan dengan jiwa, pikiran, perasaan, dan perbuatan yang tulus dan utama, maka tidak mungkin tercipta kehidupan yang baik dan maju di tubuh bangsa ini dalam bingkai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah

Ibadah Qurban juga mengajarkan sifat  kasih sayang atau welas asih yang jernih terhadap sesama sebagai perwujudan cinta kepada Allah.  

Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Muhammad SAW, dan para Rasul kekasih Allah mempraktikan hidup kasih sayang itu terhadap sesama tanpa diskriminasi.

Nabi Ibrahim sempat minta kepada Tuhan agar umat Nabi Luth yang durhaka tidak diberi azab. Sifat welas asih  Nabi yang satu ini diabadikan dalam Al-Quran:

                        إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيب           

Artinya: “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75).

Para Nabi Utusan Allah itu sangatlah berjiwa kasih sayang. Nabi Muhammad ketika dilempari batu oleh kaum Thaif tatkala hijrah, beliau berkeberatan pada saat Malaikat Jibril menawarinya agar mereka  yang melukainya itu diberi azab. “Jangan, mereka sungguh kaum yang belum mengerti”, ujar Nabi akhir zaman itu. Dalam hadisnya beliau bersabda, yang artinya:, “Tidaklah beriman seseorang hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muslim).  

Rahmat Allah pun terlimpah bagi para hamba yang menebarkan kasih sayang di muka bumi.

Sdr…

Kini insan beriman di mana pun berada diuji ketulusan  dalam menghadapi dunia yang  kepentingan harta, tahta, dan pesona dunia yang serba menghalalkan apa saja. Kehidupan politik yang serba bebas, ekonomi yang serba kapitalistik, dan budaya populer yang memuja kesenangan inderawi membuat masyarakat kehilangan nilai-nilai Ilahi yang bermakna utama.

Dalam kesempatan ini, Saya Mengajak para hadirin untuk memperhatikan Hadits Rosulullah SAW yang berbunyi:

سيأتى على الناس زمان : بطونهم آلهتهم-  ونساؤهم قبلتهم - ودناريرهم دينهم- وشرفهم متاعهم- لايبقى من الايمان الا اسمه- ومن الاسلام الا رسمه- ولا من القرأن  الا درسه - مساجدهم معمورة- وقلوبهم خراب من الهدى- علماؤهم اشر خلق الله على وجه الارض  --    حينئذ ابتلاهم الله بأربع حصال : جور من السلطان – وقحط من الزمان – وظلم من الولاة والحكام – فتعجب الصحابة فقالوا يا رسول الله ايعبدون الاصنام  قال نعم كل درهم عندهم صنم  {متفق عليه}                                

Akan datang suatu masa bagi umat manusia:

  • Perut Mereka Menjadi Tuhan mereka;
  • Perempuan yang menjadi Kiblat;
  • Uang Sebagai Agama;
  • Kehormatan terletak pada kekayaan;
  • Pada saat itu, Iman hanya Nama, Islam hanya ritual, Qur-an hanya dipelajari – Masjid makmur, tapi hati manusia kosong dari petunjuk – Ulama adalah manusia paling buruk di muka bumi;
  • Ketika itu Allah akan menurunkan siksaNya yaitu Menghadapi Penguasa Yang Kejam, Masa yang Kering, Pejabat Yang Zalim, dan Hakim yang tidak adil.
  • Sahabat bertannya; Ya. Rosulullah apakah mereka menyembah berhala. Nabi menjawab; YA.. Bagi mereka Uang adalah Berhala.

Jama’ah Idul Adha Rohimakumullah!!!

Bagi Mukmin sejati bahwa ibadah haji, qurban, dan ibadah-ibadah lainnya harus menjadikan dirinya semakin dekat dengan Allah dan berbuat kebaikan bagi sesama dalam jalinan habluminallah dan habluminannas yang harmonis.  

Sdr..

Jika ujian dan pengorbanan kepada Nabi Ibrohim AS. dibakar hidup-hidup kemudian perintah menyembelih putera kesayangan ISMAIL yang lahir berdasarkan doa demi doa, MAKA ujian dan pengorbanan kita adalah:

  • Mungkin Nafsu Urusan Perut Kita;
  • Mungkin Pengaruh dari para siti hawa Kita;
  • Boleh jadi ISMAIL kita adalah Uang dan kelebihan materi lainnya;

Pokoknya setiap apapun yang dapat merusak hubungan kita dengan Allah SWT atau MENDISOREANTASI perjalanan kita menuju Allah SWT, maka itulah ISMAIL kita;

Maka korbankanlah dia; Tanggalkan dia dari hati kita;

Sdr..

Jika kita belum mampu menyembelih hewan qurban, maka sembelihlah sifat sombong yang ada dalam diri kita yang selalu merasa benar, selalu merasa pandai atau selalu merasa paling Alim;

Sebagaimana  Alkisah;  Seorang Ahli Ibadah Yang Rugi bernama Abu Hasyim.

Pada suatu ketika saat hendak mengambil wudhu untuk tahajud, Abu Hasyim dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yang duduk di bibir sumurnya. Abu Hasim bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?” Sambil tersenyum, sosok itu berkata; “Aku Malaikat-(utusan-Allah)”.

Abu Bin Hasyim kaget sekaligus bangga karena kedatangan tamu malaikat mulia. Dia lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; “Wahai Malaikat, buku apakah yang kau bawa?” Malaikat menjawab; “Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba-pencinta-Allah.”

Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dalam hati namanya ada di situ. Maka ditanyalah Malaikat itu. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?” Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yang tidak kenal putusnya. Selalu mengerjakan shalat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam.

"Baiklah, aku buka,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tidak menemukn nama Abu di dalamnya.  Tidak percaya, Abu bin Hasyim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi. “Betul … namamu tidak ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis se-jadi-jadinya. “Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan bermunajat … tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak  tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dalam buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.”
“Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya?” tanya Abu bin Hasyim. “Engkau memang bermunajat kepada Allâh, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga kemana-mana dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak engkau tengok dan beri makan. Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allâh ?” kata Malaikat itu.

Abu bin Hasyim seperti​ disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allâh semata (hablumminAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam.

 

Jama’ah Idul Adha Rohimakumullah !!

Mari kita perhatikan catatan sejarah pelaksanaan Qurban Rosulullah SAW.

Rosulullah SAW memotong dua ekor domba, saat menyembelih hewan kurban yang pertama, beliau berdoa : “Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan keluarga” Lalu doa menyembelih hewan kedua, “YA Allah terimalah ini atas nama umatku yang tidak mampu melakukan qurban”.

Dari Do’a Rosulullah SAW diatas, sesungguhnya mengajarkan bahwa pemotongan hewan qurban, bukan sekedar acara ritual, melainkan ajaran esensil tentang kepekaan solidaritas social dan pendekatan kepada orang yang tidak mampu.

Sdr. penyembelihan hewan kurban sebagai isyarat akan pengorbanan ISMIL kita masing-masing. Dan memang begitulah arti qurban yang sebenarnya. sebagaimana dijelaskan dalam Al-quran surat Al-hajj ayat 29;

ليشهدوا  منفع لهم ويذ كروا اسم الله  في ايام معلومت

على ما  رزقهم من بهيمة الانعام                                       

فكلوا منها واطعموا البائس الفقير

“Supaya mereka menyaksikan berbagai menfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagiannya dan sebagiannya lagi berikan untuk dimakan orang-orang sengsara lagi miskin”.

Demikian semoga perjuangan Nabi Ibrohim AS beserta keluarganya, dan Ajaran Ibadah Qurban mempunyai ajaran Keikhlasan, Kecintaan dan Ajaran Pengorbanan untuk ditumbuh kembangkan diberbagai lini kehidupan kita.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ ربِّهِ ونَهَيَ النَّفْسَ عَنِ اْلَهوَى فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اْلمَأْوَى. 

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ  وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

اللهُ اَكْبَرْ ………….  

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ. 

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ.

اْلحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. 

وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ

وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ.

وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

 

اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ بِالإِسْلاَمِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالإِيْمِانِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِالْقُرْآنِ وَلَكَ الْحَمْدُ بِكُلِّ نِعْمَةٍ أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيْنَا.

اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنـَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ.

 وَالْحَمْدُلِلّهِ-رَب-الْعَالَمِيْنَ